Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran Membengkak Jadi Rp506 Triliun

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran Membengkak Jadi Rp506 Triliun – Washington DC – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon mengungkapkan bahwa biaya perang melawan Iran membengkak signifikan. Total pengeluaran untuk konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026 itu kini mencapai hampir US$29 miliar atau setara Rp506,9 triliun .

Baca Juga: Kejagung Serahkan Rp 10,2 Triliun ke Kas Negara, Prabowo: Jangan Anggap Show, Rakyat Ingin Lihat Bukti Nyata

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal yang disampaikan Pentagon dua pekan lalu, yang saat itu hanya sebesar US25miliar(sekitarRp437triliun).KenaikanhinggaUS4 miliar (Rp69,9 triliun) ini mencerminkan eskalasi konflik yang terus berlangsung hingga pertengahan Mei 2026 .

Rincian Biaya Muncul dalam Rapat Anggaran Capitol Hill

Pengungkapan ini disampaikan dalam rapat anggaran di Capitol Hill, kompleks parlemen AS, pada Selasa (12/5/2026) waktu setempat. Dalam rapat tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine, dan kepala keuangan Pentagon Jules Hurst III dicecar soal biaya perang Iran .

Para pejabat ini tengah membahas pengajuan anggaran pertahanan tahun 2027 sebesar US$1,5 triliun dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Di tengah pembahasan itulah, fakta tentang membengkaknya biaya operasi militer di Iran terungkap .

“Saat testimoni itu … jumlahnya adalah US$ 25 miliar,” kata Hurst, merujuk pada perkiraan yang disampaikan Hegseth pada 29 April 2026.

“Namun tim staf gabungan dan tim pengawas keuangan terus-menerus meninjau perkiraan itu, dan sekarang kami memperkirakan itu mendekati 29 (US$29 miliar),” ucapnya .

Hurst menjelaskan bahwa peningkatan biaya ini disebabkan oleh pembaruan “biaya perbaikan dan penggantian peralatan” militer serta pengeluaran operasional yang lebih luas .

Konflik AS-Iran dan Israel Dimulai Akhir Februari

Konflik antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Serangan gabungan AS-Israel memicu respons balasan dari Iran yang memperketat kendali atas Selat Hormuz. Blokade dan bentrokan bersenjata di kawasan tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua bulan.

Konflik ini membawa dampak signifikan tidak hanya pada militer AS tetapi juga pada ekonomi global. Harga minyak dunia melonjak dan rantai pasok terganggu akibat penutupan akses di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia.

Dampak terhadap Kesiapan Militer AS

Pengawasan terhadap konflik ini semakin ketat di dalam negeri AS. Para anggota parlemen mempertanyakan dampak perang Iran terhadap kesiapan militer AS secara keseluruhan. Pengeluaran miliaran dolar untuk operasi di Timur Tengah dinilai dapat mengganggu prioritas pertahanan lainnya.

Pemerintahan Trump mengajukan anggaran pertahanan 2027 sebesar US$1,5 triliun yang tergolong sangat besar. Namun, konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi menguras anggaran tersebut lebih cepat dari perkiraan.

Proyeksi Biaya ke Depan

Para analis militer memproyeksikan biaya perang Iran masih akan terus meningkat jika konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Setiap hari operasi militer di kawasan tersebut membutuhkan dukungan logistik, personel, dan peralatan yang tidak murah.

Ketegangan diplomatik juga terus berlanjut. Beberapa putaran perundingan damai yang difasilitasi mediator internasional belum membuahkan hasil signifikan, sehingga prospek penghentian konflik masih belum jelas.


Kesimpulan: Pentagon mengungkapkan biaya perang Iran melawan AS dan Israel membengkak menjadi US29miliaratauRp506,9triliun.AngkaininaikUS4 miliar dari perkiraan sebelumnya. Peningkatan biaya disebabkan oleh perbaikan dan penggantian peralatan militer serta pengeluaran operasional yang lebih luas. Konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026 ini masih berlangsung hingga pertengahan Mei 2026, dengan potensi biaya yang terus bertambah seiring belum adanya kesepakatan damai.

Tinggalkan komentar