Trump Klaim Kesepakatan dengan Iran untuk Akhiri Perang Kian Dekat –Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 menunjukkan kemajuan signifikan. Trump menyatakan bahwa sebuah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) untuk perdamaian telah “sebagian besar dinegosiasikan” dan tinggal menunggu finalisasi .
Baca Juga: Hampir Sebulan, 5 Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Masih Dirawat di RS
Dalam pernyataan yang diunggah di Truth Social, Sabtu (23/5/2026), Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan yang akan datang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama konflik ditutup oleh Iran. Ia juga menyebut bahwa negosiasi ini melibatkan berbagai negara, serta koordinasi dengan sekutu seperti Israel .
“Final aspects and details of the Deal are currently being discussed, and will be announced shortly,” tulis Trump dalam unggahannya .
Isu Nuklir Ditunda, Fokus Utama pada Penghentian Perang
Menurut laporan media internasional, kerangka kesepakatan yang tengah dirundingkan terdiri dari 14 klausul. Isi utamanya mencakup penghentian perang di semua front, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pencairan sebagian aset Iran yang dibekukan di bank-bank asing .
Salah satu poin penting yang disepakati adalah bahwa permasalahan program nuklir Iran tidak akan dimasukkan dalam pembahasan tahap awal. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menjelaskan bahwa perselisihan mengenai uranium yang diperkaya akan ditunda ke tahap negosiasi berikutnya . Proses ini diperkirakan akan berlangsung dalam jangka waktu 30 hingga 60 hari setelah nota kesepahaman difinalisasi.
Peran Mediasi Pakistan dan Negara Teluk
Pakistan memainkan peran kunci sebagai mediator dalam negosiasi ini. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, melakukan serangkaian pertemuan intensif di Teheran dalam beberapa hari terakhir . Selain itu, para pemimpin negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga secara aktif mendorong penghentian konflik dan meminta Trump untuk menunda rencana serangan militer skala besar yang dijadwalkan pekan ini .
Israel Merasa Frustrasi, Kekhawatiran Trump terhadap Netanyahu
Di tengah optimisme ini, muncul ketegangan antara Washington dan sekutu utamanya di Timur Tengah, Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan memiliki pandangan berbeda dengan Trump terkait strategi menghadapi Iran.
Sumber-sumber yang dikutip oleh CNN menyebut bahwa Netanyahu sempat mendesak Trump untuk melanjutkan serangan militer yang direncanakan, bukan mencari jalur diplomatik . Trump disebut menegaskan bahwa dialah yang memegang kendali, dengan menyatakan bahwa Netanyahu “akan melakukan apa pun yang saya mau” . Ketegangan ini mencerminkan perbedaan pendekatan antara kedua sekutu dalam menangani ancaman yang dianggap eksistensial oleh Israel.
Trump: 50:50, Siapkan Opsi Militer
Meskipun mengumumkan kemajuan, Trump tetap realistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan. Dalam wawancara dengan Axios, ia menyebut bahwa peluang keberhasilan saat ini berada di angka “solid 50/50” .
Ia juga kembali mengancam akan menggunakan kekuatan militer jika diplomasi gagal. “Either we reach a good deal or I’ll blow them to a thousand hells,” ujar Trump, seraya memperingatkan bahwa akan ada konsekuensi yang sangat berat bagi Iran jika negosiasi ini tidak membuahkan hasil .
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa kesepakatan dapat tercapai dalam hitungan hari, mungkin pada akhir pekan ini, menandakan adanya tekanan waktu yang tinggi dalam negosiasi tingkat tinggi ini .
Kesimpulan: Klaim Trump bahwa kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang semakin dekat menandai potensi titik balik dalam konflik Timur Tengah yang telah berlangsung tiga bulan. Meskipun kerangka kesepakatan 14 poin telah dinegosiasikan, terutama terkait gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz, isu sensitif seperti program nuklir Iran masih harus dinegosiasikan lebih lanjut. Dengan taruhan yang sangat tinggi dan perbedaan pandangan di antara para sekutu, dunia kini menanti keputusan final apakah konflik ini akan berakhir melalui jalur diplomatik atau justru memasuki eskalasi yang lebih besar.