Peneliti UI Temukan Bakteri Baru dari Jawa, Bisa Hidup di Suhu 100°C – Tim peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) berhasil menemukan spesies baru bakteri termofilik yang mampu hidup pada suhu mendekati titik didih air. Mikroorganisme ini ditemukan di semburan geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat .
Baca Juga: Shakira Bebas dari Kasus Penipuan Pajak di Spanyol
Nama dan Asal-usul Penemuan
Spesies baru tersebut diberi nama Thermus javaensis sp. nov. Nama “javaensis” diambil dari Pulau Jawa, lokasi pertama kali penemuan bakteri ini. Ini merupakan spesies pertama dari genus Thermus yang dideskripsikan dari kawasan geotermal Indonesia .
Kemampuan Bertahan di Suhu Ekstrem
Thermus javaensis ditemukan di sekitar semburan geiser Cisolok yang bersuhu mencapai titik didih air (100°C). Bakteri ini mampu tumbuh di laboratorium pada suhu 45–80°C, dengan suhu optimum pertumbuhan 60–65°C .
“Penemuan Thermus javaensis menunjukkan bahwa ekosistem geotermal Indonesia merupakan biodiversity hotspot yang menyimpan keanekaragaman mikroorganisme yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah,” ujar Prof. Wellyzar dalam keterangan resminya .
Karakteristik Unik Bakteri
Secara morfologi, Thermus javaensis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-
Berpigmen kuning yang khas
-
Bentuk sel batang
-
Memiliki struktur unik bernama rotund bodies (bentuk bulat yang jarang ditemukan pada anggota genus Thermus)
Keberadaan struktur rotund bodies ini mengingatkan pada Thermus aquaticus, bakteri terkenal penghasil enzim Taq polymerase yang menjadi dasar teknologi PCR—metode penting dalam diagnosis penyakit dan biologi molekuler modern .
Perjalanan Riset Lebih dari Satu Dekade
Penemuan ini bukan hasil penelitian singkat. Eksplorasi mikroorganisme di kawasan geiser Cisolok telah dimulai sejak tahun 2012, sementara pengambilan sampel untuk spesies ini dilakukan pada tahun 2015 .
Selama bertahun-tahun, para peneliti melakukan berbagai tahapan riset:
-
Isolasi mikroba dari sampel
-
Analisis genetik
-
Whole Genome Sequencing (WGS)
-
Karakterisasi biokimia dan mikroskopik
-
Studi kemotaksonomi
Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan kultur bakteri termofilik tetap hidup selama proses penelitian, karena mikroorganisme ini membutuhkan suhu tinggi dan medium khusus untuk tumbuh optimal .
Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal internasional International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology (2026;76:007136) .
Potensi untuk Industri dan Kesehatan
Selain penting bagi ilmu dasar mikrobiologi, Thermus javaensis dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan bioteknologi .
Enzim Termostabil
Analisis genom menunjukkan bakteri ini berpotensi menghasilkan enzim termostabil yang tahan panas. Enzim-enzim tersebut dapat digunakan dalam proses industri yang memerlukan suhu tinggi, seperti industri makanan, farmasi, dan biokimia.
Metabolit Sekunder Baru
Peneliti juga menemukan indikasi adanya metabolit sekunder baru dari kelompok terpen. Senyawa ini berpotensi dikembangkan menjadi:
-
Antibakteri
-
Antijamur
-
Antiinflamasi
-
Senyawa bioaktif lainnya
“Temuan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut di bidang bioteknologi, khususnya mikroorganisme termofilik yang berpotensi menghasilkan aplikasi industri bernilai tinggi,” kata Prof. Wellyzar .
Indonesia: Surga Mikroba yang Belum Tersentuh
Tim FMIPA UI menilai kawasan geotermal Indonesia merupakan “tambang” keanekaragaman mikroorganisme yang belum banyak dieksplorasi. Saat ini, peneliti bahkan telah mengonfirmasi dua kandidat spesies bakteri baru lainnya dari kawasan geiser Cisolok yang sedang dipersiapkan untuk publikasi ilmiah .
Dengan penemuan Thermus javaensis, jumlah spesies dalam genus Thermus kini bertambah menjadi 26 spesies sejak genus tersebut pertama kali diperkenalkan pada tahun 1969 .
Penelitian lanjutan akan difokuskan pada eksplorasi enzim tahan panas, pigmen pelindung sel, dan senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, industri, dan bioteknologi berkelanjutan .