BI Buka-bukaan Cadangan Devisa di Tengah Operasi “Habis-habisan” Jaga Rupiah – Bank Indonesia (BI) buka suara soal posisi cadangan devisa nasional di tengah derasnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Hal ini merespons langsung pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menyebut bahwa bank sentral saat ini tengah melakukan operasi stabilisasi secara “habis-habisan” .
Baca Juga: Peneliti UI Temukan Bakteri Baru dari Jawa, Bisa Hidup di Suhu 100°C
🔓 BI Buka Data: Posisi Cadangan Devisa Masih Perkasa
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar USD 146,2 miliar. Jumlah ini setara dengan Rp 2.529 triliun (kurs Rp 17.300) .
Angka tersebut memang menunjukkan penurunan dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang sebesar USD 148,2 miliar . Namun, BI menegaskan level ini masih sangat kuat dan jauh di atas standar kecukupan internasional.
“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar 114% dari ukuran kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar internasional yang ditetapkan oleh IMF. Ini mencerminkan kuatnya ketahanan eksternal Indonesia,” tegas Ramdan dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026) .
Dengan kata lain, meskipun tergerus oleh intervensi masif untuk menstabilkan rupiah, posisi likuiditas valas Indonesia masih berada di zona aman dan sangat memadai untuk mendukung stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan nasional.
⚔️ Operasi “Habis-habisan”: Ini Jurus BI Melindungi Rupiah
Seperti diibaratkan “perang”, Gubernur BI Perry Warjiyo buka suara di hadapan Komisi XI DPR bahwa langkah stabilisasi yang dilakukan saat ini tidak lagi dengan cara biasa. BI telah meningkatkan intervensi valas secara besar-besaran, baik di pasar domestik maupun luar negeri .
Untuk meminimalisir pengurasan cadangan devisa, sebagian besar intervensi dilakukan melalui instrumen swap dan hedging. Perry mengungkapkan bahwa cadangan devisa memang turun sekitar USD 10 miliar, namun itu baru sebagian kecil dari intervensi yang dilakukan secara tunai (cash). Sementara lebih dari 2/3 intervensi dilakukan melalui swap agar tidak terlalu menguras devisa.
“Sehingga penurunan cadangan devisa yang sekitar USD 10 miliar, itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini, karena yang sebagian besar lebih dari 2/3 itu adalah untuk secara swap sama hedging, supaya ini tidak semua menguras cadangan devisa,” jelas Perry dalam rapat kerja di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (18/5/2026) .
Selain intervensi langsung, berikut adalah 7 Jurus Stabilisasi yang saat ini digencarkan BI untuk menahan laju pelemahan rupiah :
-
Intervensi valas di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
-
Menaikkan imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik minat investor asing
-
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder
-
Memperketat aturan pembelian dolar AS tanpa underlying (dari USD 50.000 menjadi USD 25.000 per bulan mulai Juni 2026)
-
Memperkuat transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS
-
Menjaga likuiditas perbankan dan stabilitas pasar uang
-
Mengoptimalkan penempatan SRBI yang telah menarik inflow asing sekitar Rp 75 triliun pada April–Mei 2026
📊 Mengapa Rupiah Tertekan? Ini Pemicu Utama
Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bukan tanpa sebab. Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan berasal dari faktor musiman dan ketidakpastian global yang sangat tinggi.
Faktor Musiman Domestik
Pada periode April hingga Juni, permintaan dolar AS memang sedang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan untuk pembayaran repatriasi dividen korporasi, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan valas untuk perjalanan ibadah haji .
Ketidakpastian Global
Dari sisi eksternal, tekanan datang dari beberapa hal: kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, meningkatnya imbal hasil (yield) US Treasury yang memperkuat dolar AS, serta penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed karena inflasi AS yang kembali naik .
Harga minyak mentah dunia melonjak dari kisaran 65 dolar AS per barel menjadi lebih dari 100 dolar AS per barel. Sebagai negara net importir energi, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar untuk mengimpor energi, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan pada rupiah .
🔮 Proyeksi ke Depan: Kapan Rupiah Menguat?
Meskipun sedang dalam tekanan, pemerintah dan BI optimistis bahwa rupiah akan kembali menguat secara bertahap. Perry memperkirakan bahwa setelah periode puncak permintaan dolar berakhir (Juli–Agustus), rupiah berpotensi untuk kembali apresiasi .
“Kalau April, Mei, Juni memang demand devisa lagi tinggi. Nanti Juli, Agustus akan menguat,” ujar Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR .
Ramdan Denny Prakoso dari BI juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik masih kuat. “Insyaallah rupiah sangat berpotensi untuk menguat,” ujarnya, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang rendah, serta cadangan devisa yang memadai .
BI optimistis rata-rata nilai tukar rupiah tahun ini masih dapat kembali ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS, sejalan dengan asumsi APBN 2026 .
Kesimpulan: Di tengah “operasi habis-habisan” menjaga stabilitas rupiah, BI memastikan cadangan devisa Indonesia masih sangat kuat di USD 146,2 miliar atau 114% dari standar kecukupan IMF. Meskipun tergerus untuk intervensi, kombinasi strategi swap dan hedging dilakukan agar tidak menguras habis likuiditas valas negara. Dengan fundamental domestik yang solid dan perkiraan meredanya permintaan dolar di kuartal III, BI optimistis rupiah akan kembali menguat pada semester kedua tahun ini.